Senin, 30 Juni 2014

Majelis Rasulullah SAW


Jejak Langkah Semangat Ahlul Badr Selimuti
Masjid Agung Attin



ImageWaktu maghrib masih beberapa puluh menit lagi, puluhan jamaah Majelis Rasulullah SAW sudah mulai mendatangi Masjid Agung Attin. Diantara mereka, ada yang hadir bersama beberapa kawan sebayanya, ada pula keluarga-keluarga kecil yang hadir bersama anak-anak mungil mereka. semua menunjukkan wajah penuh semangat seolah tak ingin tertinggal satu detikpun acara Dzikir Akbar Majelis Rasulullah SAW untuk memperingati malam Nuzulul Quran dan Haul Ahlul Badr Al Kubra yang baru akan dimulai setelah shalat tarawih selesai.
Adzan maghrib segera berkumandang, puluhan jamaah kini telah berbilang ratusan. Mereka asyik menggelar makanan yang mereka bawa sekedar untuk berbuka puasa. Ada yang duduk di bawah pohon, ada yang menggelar koran di pelataran masjid, semua serba sangat sederhana. Sungguh, Suasana terasa begitu akrab, seolah sebuah keluarga yang sedang menyelenggarakan jamuan besar di tengah udara hangat yang sangat bersahabat.
Menjelang waktu isya, suasana semakin ramai, antrian sepeda motor tampak mulai menyemut memasuki lahan perparkiran yang tersedia. Kibaran-kibaran bendera Majelis Rasulullah SAW yang dibawa para jamaah bermotor itu seperti lambaian-lambaian tangan yang mengabarkan kehadiran Pecinta Rasulullah SAW dan mengajak setiap jiwa yang melihatnya untuk turut bersama mereka menuju perhelatan mulia, seperti membangunkan jiwa-jiwa yang tertidur untuk bangkit bersama dengan semangat para pecinta Rasulullah SAW.
Setelah Shalat isya dan tarawih berjamaah, Jamaah semakin menyemut. Langkah mereka sangat cepat memasuki ruangan-ruangan di dalam Masjid Agung Attin, setiap jengkal tempat yang luang adalah kesempatan mendekat pada kemuliaan dan keberkahan, mungkin itulah yang ada di benak ribuan jamaah yang rata-rata berusia muda. Hingga mereka tak menyia-nyiakan kesempatan meski harus rela berdesakan. Suasana di luar Masjid, tidaklah jauh berbeda dengan di dalam. Ribuan jamaah terus membanjiri jalan-jalan masuk menuju lokasi acara. Kemacetan tak terhindarkan karena konsentrasi ratusan ribu massa di satu tempat. Dari lokasi yang lebih tinggi, peci-peci putih jamaah seolah untaian kapas yang berterbangan pelan tertiup semilirnya angin, semua bergerak perlahan membanjiri ruang-ruang lapang yang tersisa. Sungguh pemandangan yang menggetarkan hati siapa saja yang menyaksikannya. Tanpa suara bising mereka hadir, masing-masing saling menjaga kekhusyukan menuju tempat yang mulia.
Waktu menunjukkan pukul 21.00 WIB, kepadatan jamaah semakin memuncak di ruang dalam Masjid. Sesaat setelah acara intern Masjid Agung Attin Selesai. Khadim Majelis Rasulullah SAW, Habib Munzir Bin Fuad Al Musawa memasuki ruang acara diiringi beberapa tamu dari Pejabat Pemerintah, Para Ulama dan Habaib, serta tamu undangan. Habib Munzir tampak sangat tenang dan berwibawa, raut wajahnya menggambarkan keharuan dan kekhusyukan yang mendalam.
Tanpa banyak membuang waktu, lantunan Maulid Adhiya Ulami segera dibacakan. Suara Habib Munzir yang berat dan bergetar membacakan bait-bait awal syair maulid berpadu dengan riuhnya suara penuh semangat ratusan ribu pemuda yang sudah sangat familiar dengan syair maulid karya Guru Mulia Al Habib Umar Bin Salim Bin Hafidz ini. Langit-langit Masjid Agung Attin disesaki dengan suara yang menggambarkan keindahan Manusia Termulia Sayyidina Muhammad SAW. Saat prosesi Mahallul Qiyam berlangsung, jamaah semakin berusaha mendekat ke depan podium, teriakan lantang dan hysteria pujian tak bisa dibendung, air mata kerinduan pada Manusia yang paling dicintai ALLAH SWT tak bisa pula tertahankan. Sungguh malam yang penuh dengan kesyahduan cinta dan kerinduan.
Setelah pembacaan Maulid, acara kembali dilanjutkan dengan lantunan qasidah “Alaina”, qasidah tertua yang dilagukan Rasulullah SAW saat perang Khandaq. Qasidah tersebut berisi doa-doa untuk menenangkan para sahabat yang saat itu terkepung pasukan kaum kuffar. Lagi-lagi suasana haru dan syahdu tak bisa dibendung, Imajinasi para jamaah seolah dibawa pada situasi dan suasana saat Rasulullah SAW berusaha menenangkan hati para sahabat kala itu. Tidak sedikit jamaah yang menitikkan air mata haru menyimak kata per kata lantunan merdu suara Muhammad Qalby, munsyid Majelis Rasulullah SAW.
Kesempatan sambutan dari Gubernur DKI Jakarta, diwakilkan kepada Walikota Jakarta Timur, Drs. H. Moerdani. Dalam sambutannya Beliau sangat mendukung perkumpulan pemuda penuh kedamaian seperti Majelis Rasulullah SAW untuk meredam segala efek negatif kehidupan Kota Metropolitan seperti Jakarta. Jamaah di luar Masjid Agung Attin masih terus berdatangan hingga meluber ke tepi jalan di luar lokasi Masjid.
Tibalah saat Khadim Majelis Rasulullah SAW, Habib Munzir Al Musawa, memberikan tausyiahnya. Dalam rangka Memperingati Malam Nuzulul Quran, Habib Munzir mengajak semua jamaah untuk menggelorakan kembali kecintaan pada Al Quran. Al Quran merupakan surat cinta dari Sang Maha Pecinta kepada seluruh hamba yang dicinta, dengan membuka dan membaca kembali surat cinta tersebut berarti sama dengan memperbaharui cinta hamba pada Sang Maha Pecinta. Sungguh kemuliaan dan keagungan cinta Yang Maha luhur tak akan pernah selesai dan berhenti, cintaNya adalah abadi dalam keabadian.
Selanjutnya, Habib Munzir Al Musawa menggambarkan riwayat tentang Ahlul Badr dengan sangat rinci. Bagaimana semangat tiga ratus tiga belas Sahabat yang dengan gagah berani penuh ketenangan dan keagungan jiwa, menghadapi serangan tiga ribu orang pasukan kuffar bersenjata lengkap. Para Ahlul Badr dengan senjata yang sangat minim dan sederhana, hanya beberapa orang saja yang memiliki pedang dan kuda, sisanya hanya menggunakan alat pertanian dan batu serta berjalan kaki demi mempertahankan agama Allah SWT yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Suara Habib Munzir Al Musawa terdengar lantang dan penuh semangat memaparkan bagaimana akhlak dan perilaku Imam Ahlul Badr, Rasulullah SAW dan para Ahlul Badr. Di tengah segala ancaman dari kaum kuffar, Rasulullah SAW masih meminta Ahlul Badr untuk tetap tenang dan tidak menyerang sebelum diserang. Sungguh pernyataan orang diluar islam yang menyatakan islam adalah agama yang penuh kekerasan sama sekali tidak terbukti.
Tausyiah Habib Munzir Al Musawa kemudian dilanjutkan dengan Dzikir Lafdhal Jalallah (Ya Allah) seribu kali. Dzikir ini menjadi puncak acara, ratusan ribu jamaah hanyut dalam munajat dan doa dalam dzikir tersebut. Suara Habib Munzir Al Musawa yang memimpin Dzikir sesekali meninggi dan penuh dengan kekuatan, bagai mentransfer energi positif cinta dan rindu kepada Robbul Alamin. Histeris kerinduan dan memohon pengampunan serta perlindungan pada Allah SWT menghujan dalam air mata ratusan ribu jamaah malam itu.
Acara akbar dan penuh kesyahduan berakhir setelah pembacaan Qasidah Tawassul Ahlul Badr, Qasidah yang sudah tidak asing ini begitu terasa berbeda malam itu, lebih terasa agung semangatnya, seolah Para Ahlul Badr benar-benar hadir di tengah-tengah ratusan ribu jamaah. Semangat itu pulalah yang kemudian dibawa pulang dalam benak para jamaah. Menjadi Oase semangat baru di tengah segala persoalan hidup. Semoga semangat dan akhlak pribadi-pribadi para Ahlul Badr terpatri dalam jiwa setiap pecinta Rasulullah SAW

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar